;

Senin, 04 Mei 2009

CERPEN koe

AKHIR SEBUAH KEGELISAHAN

Oleh : S. Mudawiyah


Lembayung senja menggelayut diufuk barat. Mega merah berarak pulang ke peraduan pertanda hari menjelang malam. Sementara kawanan burung berbaris rapi hendak pulang kesarang walau tanpa dikomando sekalipun.

“Subhanallah pemandangan alam yang cukup eksotis”, gumamku lirih. Kuhirup sedalam mungkin udara segar sore ini sampai merasuk ke segala persendian dalam tubuhku. Setidaknya nuansa sore ini mampu me-refresh pikiranku yang ahir-ahir ini kalut.

Hari mulai gelap namun aku masih enggan untuk menutup jendela kamarku yang berada dilantai atas. Dari sini angin berhembus sejuk sementara hempasan angin sesekali masuk menerobos jendela kamar. Suasana seperti inilah yang kerapkali mendukung aku betah berlama-lama duduk di pinggir jendela. Hamparan rumah-rumah penduduk di bawah sana terlihat begitu apik tertata.

Sekelebat bayang mas Garin hadir dalam nuansa senduku. Segera kusingkirkan bayang sosok pria yang hampir setahun terakhir ini mengisi lembar perjalanan hidupku. Sayup terdengar adzan mahgrib memanggil dari sebuah musholla tak jauh dari rumah. Sontak kuberdiri untuk segera memenuhi panggilan-Nya dan segera menutup jendela kamar bersama hilangnya bayang-bayang mas Garin dalam lamunan.


ooo0ooo


Awal Februari kelabu di musim tak tentu bagi seorang Risa. Panas yang terik dan hujan yang deras seringkali bertukar kulit dalam sehari di beberapa bulan terakhir ini. Apalagi memasuki di bulan Februari yang biasanya bertepatan dengan tahun baru Cina, musim angin kencang kerap melanda. Pun seperti suasana hati Risa yang kian tidak menentu dengan hubungan spesialnya dengan mas Garin.

Di penghujung sore itu, HP nya berbunyi, nampak jelas di layar sebuah nama MAS GARIN. Dengan ragu Risa meraih ponselnya. Namun ia tak segera menjawab panggilan kekasihnya. Sejenak dia berfikir sudah satu minggu ini dirinya dan Garin membuat suatu keputusan untuk mengendapkan sejenak masalah yang ada diantara mereka. Risa masih menggenggam erat handphone-nya. Ahirnya dengan kemantapan hati dijawab juga panggilan mas Garin, “Hallo...”.

“Assalamualaikum, Risa...Mas minta maaf sebelumnya, setelah kurenungkan nampaknya pertunangan kita tidak bisa diteruskan, bla..bla...bla “.

Risa tak sanggup mendengarkan lagi penjelasan mas Garin. Bagai disambar angin puting beliung, kepala Risa berputar-putar. Hatinya terkoyak demi mendengar berita mengejutkan dari orang yang selama ini dicintainya. Sontak dihempaskan tubuh mungilnya ke kasur. Seakan ia tak kuasa menahan beban tubuhnya yang ringan. Ia tidak bisa menerima keputusan yang dibuat secara sepihak oleh Garin.

Tiada henti air mata meleleh membasahi sarung bantal tempat wajahnya dibenamkan. Ia tak mampu untuk yang kesekian kalinya menahan beban duka yang kerap menyapanya.

“Yang sabar yo Nduk, terima kenyataan hidup ini dengan tawakal. Insya Allah kelak engkau akan dapatkan jodoh yang lebih baik daripada nak Garin.” Dengan tatapan teduh dan ucapan yang lembut wanita berusia lanjut itu mencoba menenangkan Risa yang sedang dirundung duka.

ooo0ooo

“Pagi-pagi wajahnya kok kelihatan kusut begitu Non?” Semangat dong ..!!” Fatma sahabat sekantor Risa berusaha menelisik seraut wajah Risa yang memang kelihatan bengkak dibagian matanya. “What wrong with you girl?” Lagi ada masalah ya?”

Risa mengangguk pelan. Pada Fatmalah biasanya dia mencurahkan segala suka dan duka yang selama ini mengisi lembar perjalanan hidupnya. Seolah ia menemukan chemistri pada diri Fatma daripada teman-teman lain yang ada dikantornya. Fatma sosok sahabat yang bisa dipercaya dan benar-benar tulus dalam berteman. Beda dengan kebanyakan teman sekantor lainnya yang lebih banyak bergosip dan penuh intrik dalam memperebutkan posisi tertentu.

“Hai, kok menatap aku terus, sayu banget tanpa kedip lagi?!” Fatwa mengernyitkan dahinya. “Well, I know friend. Oke, ntar istirahat makan siang kau boleh menumpahkan semua problem kamu sama aku.” Tanpa dimintapun Fatma sudah mengerti bahwa sahabatnya butuh teman curhat.

Thanks Fat, kau pengertian sekali. Tapi aku mau curhat bukan di kantor. Boleh aku mampir ke rumahmu sepulang kerja?”

“Mmm.., it’s ok, buat kamu apa yang nggak si honey. Kebetulan Mas Evan juga masih di luar kota. Sabtu-Minggu baru ada di rumah, biasakan kamu tahu sendiri kerjaannya.”

ooo0ooo


Pukul 14.30 WIB, dua sejawat itu telah sampai di rumah Fatma. Kediaman yang cukup mungil, asri dan tertata rapi. “Di rumah kamu terasa nyaman banget ya Fat?”

“Alhamdulilah, berkat jasa bik Sumi yang telaten mengurus dan membereskan hunian ini. Aku dan mas Evan kan sama-sama sibuk jadi mana sempat?!” Mungkin sebentar lagi dia datang mengantar Alif yang juga diasuh olehnya selagi kami kerja. Kubuatkan teh hangat dulu ya.. ato kamu mau kopi susu Ris?”

“Makasi dech, apa aja aku mau. Maaf merepotkan kamu Fat?!”

Never mind.” Fatma berusaha menjamu tamunya sebaik mungkin. “Kalau mau bersih-bersih badan dulu boleh juga tuh Ris, biar suegeer..!!!”

“Makasih Fat, ntar malam aja dech di rumah.”

“Oke, klo geto aku tinggal mandi dulu yaa...anggap aja seperti di rumah sendiri. Jangan sungkan-sungkan geto donk?!”

Terdengar dari luar pintu pagar dibuka. Muncul Wanita paruh baya sambil menggendong bocah berusia sekitar 1,5 th perlahan masuk ke dalam rumah. “Assalamualaikum.., lho ada non Risa toh. Udah lama Non?” Tanya bik Sumi dengan sopan.

Wa’alaikum salam. Baru aja kok Bik. Ini lagi nunggu Ibu Fatma mandi”, balas Risa. Risa mengalihkan pandangannya pada bocah kecil yang masih menggelayut manja dalam gendongan bik Sumi. “ Hai ganteng, ikut tante Risa yuuk..?’’Demi melihat Alif yang tembem dan menggemaskan itu, Risa mencoba mengulurkan kedua tangannya supaya bocah lucu itu mau berpindah gendongan padanya. Namun Alif menolak segala bujuk rayu Risa. Ia tetap gak mau lepas dari gendongan bik Sumi.

Dari balik kamar depan Fatma muncul dengan pakaian santainya plus jilbab krem yang kelihatan manis. Alunan tembang nasyidnya Opick mengiringi dari balik kamar menambah suasana sore nan syahdu semakin hangat menyelimuti kediaman Fatma.

“Allo anak kecayangan bunda.Gak mau ikut tante Rica ya? Habisnya tante masih bau acem cih tadi diculuh mandi kagak mau hehehe...”. Fatma mencoba menirukan suara cadel Alif yang belum sempurna. Sontak gelegar tawa mendera dalam ruang tamu. Alif kecil sudah berpindah tangan dalam pelukan manja sang bunda. Alif merupakan penyejuk dan penghibur sejati bagi Fatma setelah seharian penat tenggelam dalam rutinitas kerja.

“Saya ke dalam dulu Bu’, pamit bik Sumi sopan.

“Oh. Iya bik. Makasih banyak yaa?!” Fatma menyatakan betapa perempuan paruh baya itu amat membantunya.

“Kau tahu Ris, sebetulnya aku merasa amat berdosa pada Alif. Seharian ia kutinggalkan dan kutitipkan pada bik Sumi. Mustinya ia tanggung jawabku. Tapi aku masih belum kuasa untuk melepas pekerjaan yang selama 5 th terakhir ini aku rintis. Meski aku dan mas Evan sama-sama bekerja, tapi tuntutan hidup kian melonjak terus dan kita masih belum punya rumah. Jadi yaa..begini dululah sambil menabung. Insyaallah suatu saat klo situasinya stabil aku akan berhenti kerja. Itu udah aku pikirkan dalam-dalam. Beberapa minggu ini aku mencoba kursus masak dan membuat kue. Aku ingin bekerja di rumah saja. Jadi ibu rumah tangga sekalian bisa mengasuh dan memberikan pendidikan terbaik buat anak-anakku. Semoga dimudahkan aja sama Allah. Kamu sendiri gimana Ris yang punya planing menikah sama Garin?”

Demi mendengar pertanyaan sahabatnya itu roman muka Risa mendadak mendung. “Itulah masalahnya sekarang Fat. Kemarin mas Garin memutuskan pertunangan kami. Padahal pernikahan itu tinggal selangkah lagi Fat. Tapi ia me..mutuskan komitmen karena hal se..pe.le..” Akhirnya Risa tak kuasa juga menahan isak tangis yang sedari tadi ditahannya. Risa memang gampang sentimentil dibandingkan Fatma yang lebih tegar dalam menjalani hidup. Mereka berkawan baik sejak 5 th yang lalu ketika Fatma baru direkrut sebagai tenaga accounting di kantornya.

Aku turut bersedih Ris. Aku memahami perasaanmu yang amat terpukul. Menangislah sepuasmu untuk membuang sejenak beban duka itu. Sebentar ya aku tidurkan Alif dulu.” Fatma menyadari bahwa sahabatnya butuh waktu sejenak untuk menuntaskan isak tangisnya. Dengan alasan mau menidurkan Alif yang memang sudah terlelap dalam buaian, Fatwa berlalu ke belakang, sekalian menyuruh bik Sumi menyediakan makanan hangat buat sahabatnya.

Sementara alunan tembang religi dari kamar Fatma terdengar cukup syahdu mewarnai curahan hati dua sahabat yang saling berempati. Lirik yang bertajuk “Kembali Pada Allah” didendangkan merdu oleh Opick : Bila hati gelisah/ Tak tenang, tak tentram/ Bila hatimu goyah/Terluka, merana/ Jauhkanlah hati ini dari Tuhan, dari Allah?/ Hilangkanlah dalam zikirku, imanku?/ Hanya dengan Allah, hatimu akan menjadi tenang/ Dengan mengingat Allah/ Hilanglah semua kegelisahan/ Cukuplah hanya Allah/ Hati bergantung, berserah diri/ Hasbunallah wani’mal wakil, ni’mal maula wani’ma nashir...............

Risa turut larut menyelami syair mendalam dalam lagu itu. Ia sadar apa yang menimpanya adalah ujian kesabaran dari-Nya. Betapa tidak usianya kini hampir menginjak angka 35. Namun hasrat yang kuat untuk segera mendapatkan jodoh yang telah lama dinantinya kini pupuslah sudah. Sementara ketiga adiknya sudah mentas berumah tangga. Ratih, si bungsu baru dua bulan yang lalu menikah dengan pria yang dicintainya. Kebahagian yang dirasakan adik-adiknya merupakan kebahagiaannya juga. Ironisnya juga duka yang mendalam bagi batin Risa dilangkahi ketiga adiknya. Kini Risa seperti menelan pit pahit menerima nasib yang kerap mampir belakangan ini.

“Kamu yang sabar dan tawakal Ris. Allah sudah mengatur semuanya. Soal jodoh, rizqi, dan maut ada bukunya sendiri sejak lahir. Mungkin Garin bukan jodoh terbaikmu. Insya Allah kelak ada yang lebih baik darinya.”

“Padahal keinginanku cuma ingin bisa secepatnya menikah Fat? Aku ingin bisa membahagiakan ibuku yang sudah lama memimpikan putri sulungnya segera dapat pendamping. Ini yang ketiga kalinya rencana menikah aku gagal. Kenapa untuk hal ini sulit sekali bagiku?” Kadang terbesit juga pikiran seperti kata tetanggaku tempo hari, apa memang benar aku ada yang magari ya, sehingga sulit jodoh begini?” Risa menghempaskan tubuhnya ke sofa bersama kekecewaan yang mendera batinnya.

Fatma menghela nafas berlahan, nampaknya ia juga turut prihatin atas musibah perasaan yang dialami sahabatnya. “Banyak-banyak istihgfar Ris. Kau jangan mudah percaya sama omongan orang yang tidak ada dasarnya. Kau harus yakin akan kuasa Allah. Ia sedang menguji kesabaran dan ketakwaanmu. Yakinlah Ris Allah tidak akan menguji hambanya melebihi batas kemampuannya. Dengan ujian semacam ini, insyaallah sudah diukur oleh-Nya bahwa kamu mampu melampaui semua cobaan itu. Jangan berputus asa dan terus berdoa memohon kebaikan sama yang membikin persoalan hidup ya honey.

“Kau tahu Fat, aku sudah tidak menginginkan apa-apa lagi. Bahkan jika harus kehilangan pekerjaan yang sudah cukup mapan sekarang ini.”

“Kendalikan dirimu Ris, jangan gegabah. Oke..oke minum teh hangat ini dulu.” Fatma mencoba menenangkan Risa yang mulai kehilangan kontrol diri.

Risa sayang, yakinlah bahwa habis gelap terbitlah terang. Allah pasti punya rencana indah atas cobaanmu ini. Asal kau tidak berpaling darinya.”

Entah kenapa setiap kali Fatma yang memberi petuah, seolah bara api yang bergejolak di batin Risa redup sudah. Meskipun ia tahu akan hal itu setidaknya ada seseorang yang berusaha meneguhkan hatinya.

Cukuplah Allah sebagai Penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”.

Ooo0ooo


Dua tahun berlalu ..........

Duduk santai di pinggir jendela lantai atas rumahku adalah tempat terfavorit buat me-refresh segala beban pikiran. Sejauh mata memandang pada hamparan kebun apel di samping rumah adalah panorama yang tak lekang oleh waktu. Semilir angin di pagi nan cerah turut menyapu wajahku. Memberikan sensasi kesegaran alam. Membangkitkan kembali gairah rasa untuk tidak berputus asa atas nikmat-Nya.

Sejenak kulirik sosok tubuh berbalut selimut yang kelihatan masih pulas dalam buai mimpinya. “Subhanallah...terima kasih Tuhan, telah Kau hadirkan buatku seorang mas Rangga yang cukup bisa ngemong, pengasih dan sabar.”

Lelaki itu tak lain adalah suamiku. Meski status dan rentang usia diantara kami terpaut jauh tidak mengurangi keharmonisan biduk rumah tangga ini sejak setahun silam. Kuelus dengan sayang kandunganku yang memasuki bulan ke- 8, sambil tak henti-hentinya menyatakan rasa syukur atas nikmat-Nya.


Hasbunallah wani’mal wakil, ni’mal maula wani’ma nashir...............

Cukuplah Allah sebagai Penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”.


Kembali terngiang doa pelipur lara tersebut tatkala gelisah mengeruyak. Dan yang ada kini sebongkah senyum kebahagiaan terpancar dari bias wajahku, saat suami terbangun dari mimpi indahnya yang telah dirajut sejak habis sholat shubuh tadi.

“Selamat pagi sayang.....?!!”


******




Tidak ada komentar: