
“The Spirit of Entrepreneurship”
Kemampuan kreatif itu terdistribudi hampir secara universal
kepada seluruh umat di muka bumi. Kreativitas, bak sebuah mata air, jangan biarkan sumbernya mengering. Agar tetap berair, gali terus, agar “mata air kreativitas” kita tetap berair.
-------------
Proses Kreatif Berwirauasaha
kita berani berpikir kreatif,
Itu berarti kita sudah berani mengambil resiko
Kalau Anda berani tampil beda,
itu berarti Anda berjiwa entrepreneur.
Kutipan di atas, sangat mungkin, mengundang senyum meremehkan. Masa berbeda saja sampai menjadi ciri jiwa entrepreneur. Entrepreneur sendiri adalah dunia yang unik. Itu sebabnya, mengapa entrepreneur atau wirausahawan dituntut untuk selalu kreatif setiap saat. Dengan kreatifitasnya, tak mustahil akan terbukti bahwa ia betul-betul memiliki citra kemandirian yang memukau banyak orang. Karenanya ia pantas dikagumi, dan selanjutnya diikuti.
Kreatifitas adalah, unsur penting eksis dan berkembangnya sebuah usaha. Bagi entrepreneur, seolah tiada hari tanpa kreativitas. Darimana ia datang? Dari mana saja, dari siapa saja. Interaksi sosial Anda, menjadi stimulan munculnya ide inovatif. Memang, tak mudah melahirkan sesuatu yang orisinil atau sama sekali baru. Bisa saja, ia adalah kombinasi “sentuhan baru” pada karya-karya yang sudah ada. Kesan, aksentuasi disain, modifikasi, adalah bagian dari proses kreatif.
Milik siapakah kemampuan ini? Apakah ini hanya dimiliki pribadi tertentu? Tegas, kami nyatakan: tidak. Pada dasarnya, kita semua kreatif. Tentu saja, dengan kualitas dan kuantitas yang berbeda-beda.
Jika Anda termasuk dalam golongan orang yang selalu ingin tahu, kemudian dapat melihat suatu peristiwa dan pengalaman untuk dijadikan sebuah peluang, dimana orang lain tidak melihatnya, kemudian memiliki keberanian berpikir kreatif dan inovatif, bersiaplah Anda untuk menjadi entrepreneur.
Banyak contoh yang dapat memberikan gambaran kepada kita, bahwa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin dilakukan wirausahawan. Keluarkan semua ide atau gagasan Anda, jangan takut diremehkan atau dihina orang. ‘Ide gila’ yang Anda sampaikan, boleh jadi suatu waktu akan mengundang kekaguman banyak orang. Begitu Anda mulai menuai sukses, barulah orang akan bergumam, “Mengapa itu tak terpikirkan oleh saya sejak dulu, ya?’
Kalau ada contoh mari kita melirik sebentar pada perjalanan bisnis seorang Puspo Wardoyo (Wong Solo). Sukses berbisnis dengan manajemen konflik.
Lelaki ini dikenal sebagai orang yang senang menciptakan isu atau konflik yang berkenaan dengan dirinya. Target besarnya adalah bagaimana mempromosikan bisnis, “Isu atau konflik itu penting supaya media mau memberitakannya tanpa memintanya,” kata Puspo Wardoyo, pemilik waralaba ayam bakar “Wong Solo”.
Mungkin dalam banyak hal, nama lelaki ini lebih beken ketimbang rumah makannya. Maklum, keberaniannya membuat acara Poligami Award di suatu hotel beberapa waktu lalu, menimbulkan pro-kontra. Apakah ia kebablasan dalam hal personal branding? Ternyata , menurutnya apa yang ia lakukan memang disengaja.
“Saya harus menciptakan konflik terus-menerus di benak orang supaya orang membicarakan saya,” ujar Direktur PT Sarana Bakar Digdaya ini blak-blakan. Bahkan ia mengungkapkan, jika perlu, ia membayar orang untuk mendemo dirinya sendiri. Tujuannya, supaya orang selalu membicarakan dirinya tanpa henti dan polemik menjadi panjang. Contohnya, isu poligami.
“Ketika orang membicarakan Puspo, itu berarti membicarakan Wong Solo,” ujar suami dari empat wanita ini. Ia yakin, jika orang kenal Puspo, yang bersangkutan akan men-deliver hal itu ke Wong Solo.
Puspo mengakui ia sangat terkesan dengan isu Poligamy Award, karena setelah acara tersebut diselenggarakan, banyak sekali tanggapan dari masyarakat. “Ini puncak dari promosi saya,” ujarnya bangga. Diakuinya, ini isu yang paling berat dan seru yang pernah diluncurkannya. Karena isu ini melawan arus. Isu-isu tersebut ternyata tidak dibuatnya sendiri. Ia membentuk sejumlah tim yang terdiri dari para wartawan yang tersebar dibeberapa kota, antara lain Jakarta, Bandung, Surabaya, Solo, Malang, Bali, dan Medan. Dua minggu sekali ia mengadakan rapat untuk menetapkan isu dalam satu bulan.
Hasil evaluasinya saat ini menunjukkan, nama Puspo Wardoyo sudah dikenal banyak orang. Adapun dari sisi bisnis, ia merasa relatif berhasil. Saat ini sejumlah rumah makan di berbagai kota besar dimilikinya. Sejumlah proposal kerja sama juga terus mengalir ke mejanya.
Mengenai isu poligami, Puspo berujar, “Ini positif dan paling efektif. Karena ada kebenaran, tapi tak semua orang berani mengungkapkannya.” Toh, ia melihat, dari sisi agama, apa yang dilakukanya tak melanggar aturan. Ia sadar, banyak juga yang tak setuju. “Ketika orang bicara poligami, tak akan pernah tuntas,” ujarnya.
Itulah sekelumit cuplikan dari ide gila pemilik warung makan Wong Solo, dilihat dari segi bisnis mampu mendongkrak usahanya hingga berlipat-lipat. Jadi, orang kreatif, adalah orang yang berani mengambil resiko. Hanya tinggal seberapa besar sebenarnya kualitas kreativitas itu akan mempengaruhi risiko usaha yang dijalankan. Bahkan , seseorang yang berani berpikir kreatif, berarti dia sudah berani mengambil risiko. Saya yakin, hanya pengusaha yang berani mengambil risiko itulah yang usahanya dapat berkembang maju, baik untuk saat ini ataupun untuk masa depan.
-- Disarikan dari buku:
" Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian"
Karangan Valentino Dinsi --