;

Sabtu, 25 Oktober 2008

Rubrik : CERMIN " MUTIARA SAKINAH"


MUTIARA SAKINAH”


  • Manusia pemberani bukanlah seseorang yang tidak pernah takut, tetapi seseorang yang takut pada hal-hal yang seharusnya, pada waktu yang tepat dengan cara yang benar.

  • Keberanian, tidak seperti sidik jari, bukanlah bawaan lahir seseorang. Setiap orang dapat belajar mengembangkan keberaniannya. Dan bila itu ia lakukan dengan sungguh-sungguh, saya percaya ia memperbesar kemungkinan untuk berhasil di dunia dan akherat.

  • Jadilah kritikus yang sejati, yaitu konsekwen dengan apa yang diucapkan. Jangan jadi kritikus seperti cacing, berani menyuruh yang lain lari cepat, sedang dia sendiri hanyalah menggeliat.

  • Mulut kita satu, telinga dua. Artinya jadilah pendengar yang baik, bukan ingin selalu menjadi pembicara yang baik tanpa mau mendengarkan pembicaraan orang.

  • Siapapun bisa marah, marah itu mudah. Tetapi marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai pada waktu yang tepat demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik bukanlah hal yang mudah. Bila tidak perlu, tak usah marah. Bila terpaksa, marahlah secara bijaksana.

  • Kedamaian jiwa adalah tersenyum dalam hati bahkan ketika orang lain cemberut.

  • Kedamaian jiwa adalah kelemah-lembutan, jangan pernah menyakiti orang lain.

  • Kesulitan dapat diatasi bila dihadapi bukan dihindari

  • Jikalau kamu percaya bahwa kamu bisa kamu pasti bisa.

  • Winners hardly complain ; Loosers always point, their finger at others for their failure.

- Orang-orang sukses tak pernah mengeluh, sedangkan

- Orang-orang yang gagal menganggap orang lain sebagai penyebabnya.

  • Taburlah pemikiran maka Anda akan menuai tindakan Taburlah tindakan dan Anda akan menuai kebiasaan Taburlah kebiasaan dan Anda akan menuai karakter Taburlah karakter dan Anda akan menuai masa depan
  • "Muda itu", bukan usianya namun semangatnya dan "Tua itu" bukanlah lamanya hidup namun arif dan bijaksananya. Maka mencarilah, niscaya engkau akan mendapatkan dan jangan berhenti maka engkau akan digilas sang waktu, karena waktu tidak mengenal negoisasi.



---Disarikan dari berbagai sumber---

Rubrik "TIPS 'n TRIK


KARAKTERISTIK ORANG YANG

MEMPUNYAI JIWA BISNIS



  1. Jeli Menangkap Peluang

Mampu melihat peluang dengan sudut pandang besar dari masalah atau kesulitan yang mungkin muncul.

  1. Pemimpi

Pebisnis berhasil, selalu punya mimpi besar yang tidak pernah terealisasi sepenuhnya, kalaupun mimpinya hampir terealisasi, selalu saja muncul “mimpi baru” yang jauh lebih besar, yang tidak jarang di luar jangkauannya.

  1. Nyleneh

Berorientasi mencari dan menemukan sesuatu yang unik dan punya keistimewaan dibandingkan yang sudah ada. Tidak jarang akan muncul ide-ide yang terkesan nyleneh atau tidak normal, bahkan sering juga tercermin dari perilaku pebisnis yang juga nyleneh.

  1. Creative lover

Terkait dengan perilaku nyleneh tadi, pebisnis andal akan memberi penghargaan tinggi pada kreativitas baik yang muncul dari Dorena sendiri maupun lingkungan bisnisnya.

  1. Tidak Puas Diri

Pebisnis seringkali dipuji dan sekaligus dikecam oleh lingkungannya karena cerewet. Selalu ada yang kurang dan salah dan selalu saja ada yang ingin terus diperbaiki. Tidak boleh statis atau berpuas diri.

  1. Tahan Banting

Selalu bisa bounce back, bahwa dari situasi yang sangat sulit pebisnis sejati akan bisa bangkit kembali setelah ‘jatuh’.

  1. Aggresive Driver

Harus bisa jadi penggerak bagi tim dan lingkungannya untuk terus maju.



*** BRAVO .......ENTERPRENEUR ??!!! ***


**************




5 CARA BERPIKIR KREATIF



  • OPTIMIS, yakinlah kita mampu menyelesaikan tugas kita. Pernyataan optimis melatih kita berani masuk ke dalam persoalan dan pola pikir akan berkembang karena dipaksa memeras otak untuk mewujudkan tekad itu.
  • Hilangkan cara berpikir konservatif (pola pikir yang takut atau kuatir ketika menerima perubahan). Cara berpikir konservatif akan memasung pemikiran kreatif karena pikiran dibekukan oleh sesuatu yang statis, cobalah mulai berpikir dinamis.

Ada 3 cara mengurangi atau menghilangkan pola pikir konservatif:
1. Terbuka terhadap masukan, ide ataupun kritik karena semua itu merangsang kita berpikir kreatif.
2. Mencoba pekerjaan atau hal baru untuk memperkaya diri dan pola pikir perlu dilatih menghadapi hal-hal baru.
3. Harus proaktif, berbuat proaktif berarti berani menyatakan suara dan membuat diri bebas memilih tindakan dengan dasar pertimbangan yang matang.

  • Jangan cepat puas dengan hasil kerja Anda. Untuk melatih diri, tambah dan terbukalah terhadap tantangan baru, hal ini akan memicu daya berpikir kreatif. Perbaiki mutu hasil kerja karena hal itu memperlihatkan mutu daya pikir kita.
  • Bertanya, dengan bertanya berarti ada dinamika pikiran dan untuk menguji daya kritis pikir kita.
  • Jadi pendengar yang baik, kita bisa memahami banyaknya informasi yang masuk dan kita dituntut untuk berpikir kreatif sesuai dengan kemampuan dunia luar.



-- Disarikan dari berbagai sumber --










Jumat, 24 Oktober 2008

Pojok : SPIRIT "FAJAR KEWIRAUSAHAAN"


FAJAR KEWIRAUSAHAAN

By: S. Mudawiyah


Tak ada lembaga formal yang benar-benar tepat untuk

melahirkan entrepreneur. Setiap lembaga formal, mengajarkan Anda

mengerjakan bisnis dan memutar uang orang lain.

Mulailah, melihat kekuatan itu pada diri Anda sendiri.


Tahukah Anda, ditaksir, populasi dunia mencapai enam miliar di ahir 1999 dan tahun 2020 angkanya melonjak menjadi delapan miliar! Apakah pemerintah bisa menyediakan pekerjaan untuk sedemikian banyak orang?

Faktanya, merger, akuisisi, dan restrukturisasi dalam sektor swasta lebih sering membuahkan PHK masal. Lalu siapa yang mendapat beban menciptakan lapangan kerja? Beban itu harus dipikul INDIVIDU-nya sendiri. Setiap orang menciptakan sendiri pekerjaannya! Setiap orang, siap atau tidak, kondisi mendorongnya menjadi wirausaha.

Mau pilih yang mana: segera menyiapkan mental dan keterampilan kewirausahaan atau, saatnya nanti, terpaksa serabutan, mencoba-coba menjadi wirausahawan setelah “terdepak” dari posisi “orang gajian”!

Dan tidak ada salahnya setelah merenungkan artikel ini,segeralah belajar mengambil inisiatif, inovatif, berani dan kreatif.

Apabila kita amati tren 1000 th terakhir, di sana kita lihat perpindahan kekuasaan pada kelompok orang atau individu tertentu. Bisa diamati dalam bagan berikut:


Tahun 1455



Penemuan mesin cetak yang memungkinkan pengetahuan lebih bisa disebarkan kepada lebih banyak orang. Dengan demikian kekuasaan bergeser dari agama ke politik.

Tahun 1555



Politisi mulai lebih berkuasa dan untuk mempertahankan kekuasaan itu, birokrasi dibuat.

Tahun 1970



Penemuan microchip memungkinkan informasi lebih tersebar kepada kelompok orang yang lebih besar.

Kekuasaan bergeser perlahan dari politik ke ekonomi.

Tahun 1995



Ekonomi sekarang begitu penting sehingga menjadi sebab jatuhnya banyak pimpinan politik (mis: Presiden Soeharto, PM Chavalit Yongchaiyudh dari Thailand) .


Tahun 2020



Keseimbangan kekuasaan bergeser perlahan dari birokrasi menjadi kewirausahaan. ( Bill Gates dipilih sebagai orang paling berkuasa di Inggris)


Sumber: Dare to Fail by Billy P.S Lim


Karena perkembangan dinamis bakat kewirausahaan,

Amerika Serikat mampu mewujudkan

lebih dari 15 jt pekerjaan dalam tempo 7 tahun.”


Sekilas angka dan fakta ini, adalah fenomena merekahnya fajar kewirausahaan. Anda, mungkin sedang menapaki jalan di dalam terangnya fajar ini.



Disarikan dari buku:
"Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian"
Karangan 'Valentino Dinsi'










Jumat, 17 Oktober 2008

About Creatifity

The Spirit of Entrepreneurship”


Kemampuan kreatif itu terdistribudi hampir secara universal

kepada seluruh umat di muka bumi. Kreativitas, bak sebuah mata air, jangan biarkan sumbernya mengering. Agar tetap berair, gali terus, agar “mata air kreativitas” kita tetap berair.

-------------


Proses Kreatif Berwirauasaha


kita berani berpikir kreatif,

Itu berarti kita sudah berani mengambil resiko

Kalau Anda berani tampil beda,

itu berarti Anda berjiwa entrepreneur.


Kutipan di atas, sangat mungkin, mengundang senyum meremehkan. Masa berbeda saja sampai menjadi ciri jiwa entrepreneur. Entrepreneur sendiri adalah dunia yang unik. Itu sebabnya, mengapa entrepreneur atau wirausahawan dituntut untuk selalu kreatif setiap saat. Dengan kreatifitasnya, tak mustahil akan terbukti bahwa ia betul-betul memiliki citra kemandirian yang memukau banyak orang. Karenanya ia pantas dikagumi, dan selanjutnya diikuti.

Kreatifitas adalah, unsur penting eksis dan berkembangnya sebuah usaha. Bagi entrepreneur, seolah tiada hari tanpa kreativitas. Darimana ia datang? Dari mana saja, dari siapa saja. Interaksi sosial Anda, menjadi stimulan munculnya ide inovatif. Memang, tak mudah melahirkan sesuatu yang orisinil atau sama sekali baru. Bisa saja, ia adalah kombinasi “sentuhan baru” pada karya-karya yang sudah ada. Kesan, aksentuasi disain, modifikasi, adalah bagian dari proses kreatif.

Milik siapakah kemampuan ini? Apakah ini hanya dimiliki pribadi tertentu? Tegas, kami nyatakan: tidak. Pada dasarnya, kita semua kreatif. Tentu saja, dengan kualitas dan kuantitas yang berbeda-beda.

Jika Anda termasuk dalam golongan orang yang selalu ingin tahu, kemudian dapat melihat suatu peristiwa dan pengalaman untuk dijadikan sebuah peluang, dimana orang lain tidak melihatnya, kemudian memiliki keberanian berpikir kreatif dan inovatif, bersiaplah Anda untuk menjadi entrepreneur.

Banyak contoh yang dapat memberikan gambaran kepada kita, bahwa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin dilakukan wirausahawan. Keluarkan semua ide atau gagasan Anda, jangan takut diremehkan atau dihina orang. ‘Ide gila’ yang Anda sampaikan, boleh jadi suatu waktu akan mengundang kekaguman banyak orang. Begitu Anda mulai menuai sukses, barulah orang akan bergumam, “Mengapa itu tak terpikirkan oleh saya sejak dulu, ya?’

Kalau ada contoh mari kita melirik sebentar pada perjalanan bisnis seorang Puspo Wardoyo (Wong Solo). Sukses berbisnis dengan manajemen konflik.

Lelaki ini dikenal sebagai orang yang senang menciptakan isu atau konflik yang berkenaan dengan dirinya. Target besarnya adalah bagaimana mempromosikan bisnis, “Isu atau konflik itu penting supaya media mau memberitakannya tanpa memintanya,” kata Puspo Wardoyo, pemilik waralaba ayam bakar “Wong Solo”.

Mungkin dalam banyak hal, nama lelaki ini lebih beken ketimbang rumah makannya. Maklum, keberaniannya membuat acara Poligami Award di suatu hotel beberapa waktu lalu, menimbulkan pro-kontra. Apakah ia kebablasan dalam hal personal branding? Ternyata , menurutnya apa yang ia lakukan memang disengaja.

“Saya harus menciptakan konflik terus-menerus di benak orang supaya orang membicarakan saya,” ujar Direktur PT Sarana Bakar Digdaya ini blak-blakan. Bahkan ia mengungkapkan, jika perlu, ia membayar orang untuk mendemo dirinya sendiri. Tujuannya, supaya orang selalu membicarakan dirinya tanpa henti dan polemik menjadi panjang. Contohnya, isu poligami.

“Ketika orang membicarakan Puspo, itu berarti membicarakan Wong Solo,” ujar suami dari empat wanita ini. Ia yakin, jika orang kenal Puspo, yang bersangkutan akan men-deliver hal itu ke Wong Solo.

Puspo mengakui ia sangat terkesan dengan isu Poligamy Award, karena setelah acara tersebut diselenggarakan, banyak sekali tanggapan dari masyarakat. “Ini puncak dari promosi saya,” ujarnya bangga. Diakuinya, ini isu yang paling berat dan seru yang pernah diluncurkannya. Karena isu ini melawan arus. Isu-isu tersebut ternyata tidak dibuatnya sendiri. Ia membentuk sejumlah tim yang terdiri dari para wartawan yang tersebar dibeberapa kota, antara lain Jakarta, Bandung, Surabaya, Solo, Malang, Bali, dan Medan. Dua minggu sekali ia mengadakan rapat untuk menetapkan isu dalam satu bulan.

Hasil evaluasinya saat ini menunjukkan, nama Puspo Wardoyo sudah dikenal banyak orang. Adapun dari sisi bisnis, ia merasa relatif berhasil. Saat ini sejumlah rumah makan di berbagai kota besar dimilikinya. Sejumlah proposal kerja sama juga terus mengalir ke mejanya.

Mengenai isu poligami, Puspo berujar, “Ini positif dan paling efektif. Karena ada kebenaran, tapi tak semua orang berani mengungkapkannya.” Toh, ia melihat, dari sisi agama, apa yang dilakukanya tak melanggar aturan. Ia sadar, banyak juga yang tak setuju. “Ketika orang bicara poligami, tak akan pernah tuntas,” ujarnya.

Itulah sekelumit cuplikan dari ide gila pemilik warung makan Wong Solo, dilihat dari segi bisnis mampu mendongkrak usahanya hingga berlipat-lipat. Jadi, orang kreatif, adalah orang yang berani mengambil resiko. Hanya tinggal seberapa besar sebenarnya kualitas kreativitas itu akan mempengaruhi risiko usaha yang dijalankan. Bahkan , seseorang yang berani berpikir kreatif, berarti dia sudah berani mengambil risiko. Saya yakin, hanya pengusaha yang berani mengambil risiko itulah yang usahanya dapat berkembang maju, baik untuk saat ini ataupun untuk masa depan.


-- Disarikan dari buku:

" Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian"

Karangan Valentino Dinsi --